B ertahun-tahun lamanya Thoma memendam perasaannya kepada Ayaka. Sudah banyak cara yang Thoma coba, akan tetapi selama itu pula sang pujaan hati tak ada menunjukkan tanda-tanda kepekaan.
Boro-boro peka, Thoma saja 'hanya' dianggap teman sama Ayaka!
Hingga suatu hari, Thoma menemukan sebuah akun aneh yang mengaku bisa membantu segala macam masalah percintaan. Terlihat seperti akun iseng, tapi reviewnya banyak dan bagus-bagus!
Seorang gadis dengan rambut ikal berwarna coklat yang setiap sore raut wajahnya selalu terlihat letih. Itulah jawaban orang-orang jika ditanyai mengenai sosok Kaia Danisa.
Sebenarnya Nisa masih duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah pertama. Namun kebutuhan hidup keluarganya yang semakin hari semakin meningkat membuatnya merelakan waktu istirahatnya untuk bekerja paruh waktu. Hal tersebut ia lakukan untuk membantu keuangan keluarganya.
Kali ini ia kembali melewati taman kota, satu-satunya jalan menuju rumahnya. Seperti biasa. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menarik Nisa ke suatu tempat.
Karena terkejut, dengan spontan Nisa berseru, “Hey, siapa ini?”
“Jika kau tidak menjawab, maka aku akan memukulmu!” lanjut Nisa.
Mendengar ancaman tersebut, sosok yang menarik tangan Nisa pun berbalik badan. Kemudian berseru, “Aduh, tenanglah! Aku ini Anala, teman sekelasmu!”
“Eh … ternyata kamu, Anala. Maaf, ya. Aku kira orang lain, hehe,” kata Nisa seraya meringis.
Anala mengangguk-angguk. “Iya, enggak apa-apa, kok! Aku juga salah karena tiba-tiba narik tangan orang jalan kayak gitu. Maaf, ya.”
“Oh iya, kenapa kamu tadi menarik tanganku, Anala?” tanya Nisa.
“Sebenarnya ini karena beberapa waktu terakhir, aku memerhatikan kamu. Gerak-gerikmu mencurigakan, itulah yang membuatku penasaran,” lalu ia melanjutkan, “tapi, Sa. Aku juga enggak rugi. Karena rasa penasaran itu muncul, aku jadi tau kalau kamu sudah melalui hari-hari yang sulit.”
Nisa menatap Anala. “Terus?”
“Nah, sekarang waktunya kamu bahagia, Sa,” ujar Anala, seraya memberikan sekerucut es krim rasa stroberi kepada Nisa.
Perlahan sudut bibir Nisa terangkat, ia mulai tersenyum. “Terima kasih banyak, Anala.”
“La, kamu tau apa artinya atmaharsa?” tanya Nisa kepada Anala.
Anala menggeleng, “Memang artinya apa?”
“Dalam bahasa Sanskerta, atma berarti jiwa. Dan harsa berarti kebahagiaan. Sehingga, jika kedua kata tersebut digabungkan menjadi ‘kebahagiaan jiwa’ … dan, terima kasih sudah menghiburku hari ini, Anala.”
Anala tersenyum lebar. “Bukan masalah, kok. Itu ‘kan yang disebut teman!” serunya, seraya merangkul pundak Nisa.
Aku ingin bercerita tentang seseorang yang aku kagumi, yang aku anggap sebagai pahlawanku.
Namanya Adriyani Setyaningsih, atau yang kerap kali disapa dengan ‘Bu Ria’ adalah seorang guru senior di sekolahku dulu. Beliau telah mengajar selama 15 tahun di sana.
Meskipun terkenal dengan julukan ‘guru galak’, beliau menghiraukannya dan tetap mengajar dengan caranya tersendiri.
Ku akui beliau memang orang yang disiplin. Baik dalam mengajar maupun dalam kehidupan sehari-harinya.
Dan dahulu, aku merupakan anak yang sangat payah dalam pelajaran matematika. Aku benci segala hal yang berkaitan dengan matematika. Namun Bu Ria tak pernah menyerah untuk terus mengajariku, setidaknya sampai kemampuan berhitungku sudah lebih membaik daripada sebelumnya.
Caranya memotivasiku untuk belajar matematika cukup unik dan beragam.
Pernah suatu saat aku sudah berada di ambang menyerah mempelajarinya, karena aku menganggap pelajaran
tersebut benar-benar sulit dan aku tak mampu menguasainya barang sedikit pun. Di sanalah Bu Ria berada, mendampingiku dan mengatakan akan memberi kursus gratis untukku. Dalam kursus tersebut, beliau mengajarkan beberapa rumus, juga trik cepat untuk menyelesaikan soal matematika yang beliau berikan setiap pertemuannya.
Aku benar-benar tak menyangka kalau Bu Ria sebaik itu. Beliau bersedia meluangkan waktunya hanya untuk mengajariku dan teman-teman yang sepertiku, payah dalam pelajaran matematika.
Ketika kami sudah menguasai beberapa rumus yang diberikan oleh Bu Ria, beliau dengan senang hati memberi kami beberapa lembar uang sebagai penyemangat kami agar lebih giat belajar. Sejak itu, Bu Ria selalu memberikan uang kepada anak yang sudah menguasai pelajaran tertentu.
Itulah beberapa hal yang kuingat dari beliau.
Aku dan teman-temanku telah kehilangan kontak dengan Bu Ria. Ketika kami mengunjungi sekolah lama kami, katanya Bu Ria sudah lama pensiun.
Namun, baru-baru ini aku mendengar sebuah kabar yang membuat hatiku hancur.
Waktu itu aku sedang duduk-duduk bersama Ajeng, temanku, di bawah sebuah pohon beringin nan rindang sembari meminum es dawet.
“Sa, kamu mau dengar kabar yang lagi heboh, enggak?”
Aku menoleh kepada Ajeng, lalu menaikkan satu alisku. Artinya, aku ingin mendengar kelanjutan ucapan Ajeng tadi. “Memangnya ada apa?” tanyaku.
Ajeng mengambil napas dalam-dalam, barulah kemudian berkata, “Katanya Bu Ria sudah wafat sejak tahun lalu, Sa.”